Sunday, September 25, 2011

Membongkar kesesatan dan kekejaman Rezim Suriah

Seperti halnya sekte-sekte Syi’ah ekstrim lainnya, kelompok Nushairiyah mengajarkan kepada pengikutnya untuk bertindak secara maksimal dalam rangka menyembunyikan ajaran agamanya. Buku yang dianggap sebagai Kitab suci mereka, Al-Haft Asy-Syarif, sangat menekankan kewajiban menyembunyikan ajaran agamanya dari selain anggota Nushairiyah. Orang-orang yang membongkar rahasia ajaran mereka kepala publik selalu mereka bunuh dan buku karyanya dilenyapkan.

Di antaranya dialami oleh mantan pengikut Nushairiyah dari wilayah Adhanah, Turki, bernama Sulaiman Al-Adhani. Ia beralih masuk Kristen lewat aksi para misionaris Amerika. Ia membongkar ajaran Nushairiyah lewat bukunya ‘Al-Bakurah As-Sulaimaniyah’ dan buku ini sempat diterbitkan oleh misionaris Amerika di Beirut pada tahun 1863 M. Keluarganya yang masih mengikuti Nushairiyah memperdayanya untuk berkunjung ke kerabat dekatnya di propinsi kelahirannya, Ladzikiyah, Suriah. Setibanya di sana, mereka mengajaknya tinggal beberapa lama, lalu mereka membunuhnya dengan membakarnya hidup-hidup. Sejak saat itu bukunya hilang dari peredaran.

Hal serupa dialami oleh wartawan Salim Lauzi yang dibantai oleh Nushairiyah karena menulis reportase tentang pengaruh kekuasaan Nushairiyah di Tripoli, Lebanon dan sayap militernya yang dipimpin oleh Ali ‘Ied.

Kaum wanita di kalangan Nushairiyah tidak diperkenankan mengetahui ajaran kelompoknya, karena mereka dianggap lemah akal dan kawan setan. Adapun kaum laki-laki hanya diperbolehkan mengetahui ajaran kelompoknya jika telah berusia 19 tahun ke atas, dan lolos seleksi keanggotaan yang meliputi tiga jenjang. Perekrutan dan organisasi kelompok ini menyerupai sistem perekrutan dan organisasi kelompok Yahudi Freemasonry, iIuminity, dan lainnya.

Dari kitab suci mereka, Al-Haft Asy-Syarif, dan buku-buku karangan para ulama Syi’ah ekstrim Itsna ‘Asyariyah serta anggota dan mantan anggota Nushairiyah, bisa diketahui bahwa ajaran Nushairiyah adalah sebagai berikut.

Aqidah tentang Ketuhanan

  • Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya (11 imam menurut golongan Syi’ah ekstrim) adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Allah Sang Pencipta menitis atau bersemayam pada diri makhluk, yaitu secara berturut-turut pada diri Habil, Syits, Sam, Ismail, Harun, Syam’un, dan Ali bin Abi Thalib.
  • Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa dalam setiap periode penitisan, Allah mengangkat seorang rasul sebagai perantara antara diri-Nya dengan manusia. Para rasul tersebut secara berturut-turut adalah Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Apabila dibuat tabel, maka periode penitisan Tuhan dalam jasad manusia sejak awal mula penciptaan makhluk menurut keyakinan kelompok.
  • Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Ilah secara bathin, seorang imam secara dhahir, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak bisa mati dan tidak bisa dibunuh, tidak makan dan tidak minum.
  • Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali sebagai Ilah telah menciptakan Muhammad sebagai Rasul yang menjadi penghubung antara Ali (Ilah) dengan seluruh makhluk. Muhammad di malam hari berhubungan dengan Ali, namun di siang hari terputus hubungan dengannya. Ali Tuhan Sang Pencipta menciptakan Muhammad, lalu Muhammad menciptakan Salman Al-Farisi, lalu Salman Al-Farisi menciptakan lima anak yatim yang mengatur kehidupan di langit, bumi, dan alam. Kelima anak yatim tersebut adalah:
  1. Miqdad: menurut keyakinan mereka, ia adalah Rabbun naas, Tuhan pencipta manusia. Ia diberi kekuasaan untuk mengatur Guntur dan petir.
  2. Abu Dzar Al-Ghifari: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur pergerakan bintang-bintang dan planet-planet di angkasa.
  3. Utsman bin Mazh’un: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur lambung, suhu badan, kesehatan dan penyakit manusia.
  4. Abdullah bin Rawahah: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur pergerakan angin dan mencabut nyawa manusia.
  5. Qunbur bin Kadan: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan meniupkan nyawa ke dalam jasad janin.
  • Allah memiliki unsur isim (nama) dan makna, atau lahir dan batin. Unsur lahir adalah isim yang terdiri dari tiga huruf; alif, sin, dan mim. Tiga huruf tersebut dibaca dari belakang; mim, sin, dan alif. Mim artinya Muhammad bin Abdullah SAW disebut juga as-sayyid al-mim, sin artinya Salman Al-Farisi disebut juga al-bab, dan alif artinya Al-Miqdad bin Aswad disebut juga Rabbun Nas (Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemberi rizki manusia). Maka Nushairiyah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib selaku Tuhan telah menciptakan Muhammad bin Abdullah SAW, lalu Muhammad menciptakan Salman Al-Farisi, lalu Salman Al-Farisi menciptakan Al-Miqdad bin Aswad, dan Al-Miqdad menciptakan seluruh manusia. Maka mereka menyebut Al-Miqdad adalah rabbun nas. Adapun unsur bathin Allah terwujud dalam diri Ali bin Abi Thalib.

Dari penjelasan di atas, para ulama dan pakar sekte menjelaskan bahwa sesungguhnya ajaran kelompok Nushairiyah tentang ketuhanan merupakan adopsi dari ajaran berbagai agama dan sekte sesat yang berlainan, yaitu:

  1. Paganisme, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang mengagung-agungkan bintang, planet, dan benda-benda langit.
  2. Nashrani, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang menyatakan unsure ketuhanan dalam trinitas: Ali-Muhammad-Saman.
  3. Syi’ah Itsna Asyariyah, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang menyatakan para imam mereka berturut-turut adalah Ali dan kesebelas anak-turunannya sebagaimana keyakinan kelompok Syi’ah Itsna Asyariyah.
  4. Majusi Mazdakisme, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang mengajarkan menghalalkan semua larangan agama (menghalalkan khamr, zina, homoseksual, dan lesbian), menyatakan semua perintah agama telah gugur, dan memperingati hari raya Majusi, Nairuz.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 341-354, An-Nushairiyah hlm. 14-30, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 116-119)

Akidah tentang Pahala dan Siksa

Kelompok Nushairiyah meyakini reinkernasi. Menurut akidah mereka, ketika seorang manusia telah mati maka ruhnya akan menitis pada jasad yang lain sesuai dengan jenis amalan yang ia kerjakan semasa hidupnya. Dengan demikian, mereka tidak meyakini pahala yang dibalas dengan kenikmatan surga dan dosa yang dibalas dengan siksa di neraka. Mereka tidak meyakini adanya kehidupan alam barzakh dan alam akhirat.

Di sisi lain, mereka meyakini bahwa ada alam ruh yang tinggi di langit, yang dihuni oleh makhluk-makhluk yang tinggi lagi mulia, yaitu bintang-bintang dan planet-planet. Mereka meyakini bintang-bintang dan planet-planet tersebut memancarkan limpahan cahaya secara terus-menerus pada ketujuh tingkatan langit sesuai tingkatannya masing-masing. Mereka meyakini ruh seorang mukmin (versi mereka) berinkernasi dalam wujud tingkatan-tingkatan yang berbeda di kalangan penghuni alam ruh di ketujuh langit. Mukmin sejati, menurut mereka, akan berinkernasi menjadi bintang yang cahayanya terang dan kuat.

Adapun ruh orang-orang kafir dan jahat (versi mereka) akan berinkernasi dalam wujud semua benda dan makhluk di alam raya ini selain wujud manusia. Mereka akan berinkernasi menjadi batu, pohon, air, garam, benda mati, hewan yang biasa disembelih dan dimakan maupun hewan yang tidak biasa disembelih dan dimakan. Bila berinkernasi dalam wujud hewan yang biasa dimakan maupun tidak, maka mereka akan mati, berinkernasi, mati, berinkernasi, dan terus-menerus mengalami proses inkernasi tersebut sebanyak seribu kali kematian dan seribu kali disembelih.

Mereka meyakini, proses inkernasi pada diri orang-orang jahat dan kafir akan terus berlangsung sampai akhirnya muncul imam ghaib yang terakhir, yaitu Muhammad bin Hasan Al-Askari yang merupakan imam ‘fiktif’ kedua belas dalam ajaran Syi’ah Itsna Asyariyah. Muhammad bin Hasan Al-Askari akan mengembalikan mereka kepada wujud manusia, lalu membunuhh mereka hingga darah mereka menggenangi lembah-lembah.

Tidak diragukan lagi, keyakinan reinkarnasi dan pengingkaran terhadap kehidupan alam barzakh, alam akhirat, surga, dan neraka adalah keyakinan kaum musyrik dan atheis yang bertentangan dengan rukun Iman. Islam datang untuk menghapus akidah sesat ini. Keyakinan reinkernasi tak lain hanyalah ajaran agama musyrik Yunani kuno, Hindu, dan Budha yang diadopsi oleh kelompok Nushairiyah.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hal. 355-359, An-Nushairiyah hlm. 14-30, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 116-119)

Akidah tentang para shahabat Nabi SAW

Pertama: Kelompok Nushairiyah meyakini unsur trinitas dalam ketuhanan, yaitu :

  1. ‘Ain: Ali bin Abi Thalib adalah al-ma’na, yaitu Dzat Tuhan.
  2. Mim: Muhammad bin Abdillah sebagai al-hijab, al-bab, nabi, dan juru bicara Dzat Tuhan.
  3. Sin: Salman Al-Farisi adalah al-bab yang menciptakan kelima anak yatim yang menjadi pengatur seluruh alam semesta.

Kedua: Salman menurut keyakinan seluruh kelompok Syi’ah adalah shahabat yang setia membela Ali bin Abi Thalib melawan seluruh musuhnya, pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA. Kelompok Nushairiyah melebihi seluruh kelompok Syi’ah ekstrim lainnya, dengan meyakini Salman —bukan saja sebagai pembela setia Ali, melainkan— adalah pencipta langit, bumi, dan kelima anak yatim tersebut. Salman dalam keyakinan mereka adalah an-nafsu al-kulliyah (jiwa yang sempurna) yang merupakan pancaran cahaya dari al-‘aql (akal, yaitu Muhammad bin Abdillah). Keyakinan ini sama persis dengan keyakinan filsafat Plato, Yunani Kuno, yang menyatakan bahwa seluruh makhluk di alam semesta adalah pancaran dari satu dzat. Masing-masing makhluk memiliki tingkatan yang berbeda, dan tingkatan yang paling tinggi adalah akal.

Ketiga: Mereka meyakini bahwa Muhammad adalah bapak umat ini dan Salman adalah ibu umat ini. Dzat Tuhan (yaitu Ali bin Abi Thalib) mengajarkan kitab suci Al-Qur’an kepada Muhammad melalui perantaraan Al-Bab yaitu Salman, sebagai perwujudan malaikat Jibril. Mereka meyakini Salman adalah ruuhul quddus, Jibril, Al-Aziz Al-A’la (Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi), nuurullah (cahaya Allah), sirrul wujud (rahasia seluruh makhluk), nurul aql (cahaya akal), kepadanya segala sesuatu dibangkitkan dan dikembalikan.

Keempat: Al-Bab yaitu Salman mengalami reinkernasi. Dalam setiap periode reinkernasi, ia menitis dalam jasad beragam manusia. Secara berturut-turut Salman menjelma dalam jasad; Jibril, Yabil, Ham, Dan, Abdullah, Rauzan, Salman Al-Farisi, Qais bin Waraqah, Rasyid Al-Hajri, Abdullah bin Ghalib Al-Kabuli, Yahya bin Ya’mar, Jabir bin Zaid Al-Ju’fi, Abul Khathab Muhammad bin Zainab Al-Kahili, Mufadhal bin Umar Al-Ju’fi, Muhammad bin Mufadhal, Umar bin Furat, dan Muhammad bin Numair An-Nushairi.

Kelima: Mereka meyakini empat orang shahabat (Miqdad, Abu Dzar, Utsman bin Mazh’un, dan Abdullah bin Rawahah) dan seorang pembantu Ali bin Abi Thalib (Qunbur bin Kadan) adalah ‘wakil-wakil Tuhan’ yang memiliki kekuasaan mengatur alam semesta.

Keenam: Mereka memiliki kesamaan akidah dengan seluruh kelompok Syi’ah ekstrim lainnya terhadap seluruh shahabat Nabi SAW yang lain. Yaitu membenci, memusuhi, mendengki, dan mencaci maki mereka. Terlebih terhadap shahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA. Menurut keyakinan mereka, para shahabat ini adalah iblis, musuh Ali, dilaknat Allah, dan setan.

Ketujuh: Mereka merayakan hari raya terbunuhnya Umar bin Khatab di tangan Abu Lu’luah Al-Majusi, setiap tahun pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal. Perayaan tersebut mereka sebut ‘hari raya terbunuhnya Dallam laknat Allah atasnya’. Tak diragukan lagi, keyakinan ini adalah adopsi dari kebencian dan permusuhan bangsa Majusi Persia yang dinastinya diruntuhkan oleh pasukan Islam pada masa pemerintahan Umar.

Kelapan: Mereka memuji dan mengagung-agungkan tokoh Khawarij, Abdurrahman bin Muljim, yang telah membunuh Ali bin Abi Thalib. Dalam keyakinan mereka, Abdurrahman telah berjasa besar membebaskan Dzat Ketuhanan Ali dari jasad manusiawinya. Abdurrahman menurut mereka adalah manusia yang paling mulia. Tak diragukan lagi, keyakinan ini adalah adopsi dari akidah Nashrani yang mengagungkan penyaliban Yesus Kristus oleh kaum Yahudi.

Kesembilan: Jihad menurut kelompok Nushairiyah adalah membenci, mendengki, memusuhi, dan mencaci maki Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sebagian besar shahabat yang lain. Juga melakukan hal yang sama kepada para ulama Islam, seperti imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Dalam keyakinan kelompok Nushairiyah, mereka adalah manusia-manusia yang memakan limpahan rizki Dzat Tuhan (Ali bin Abi Thalib) namun tidak mau menyembahnya. Dalam pandangan Nushairiyah, mereka adalah manusia-manusia najis yang menyesatkan manusia dan menghalang-halangi manusia dari membela ahlul bait.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 360-365, An-Nushairiyah hlm. 39, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55 dan 95-105, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 116-119)

Akidah tentang tingkatan-tingkatan makhluk

Kelompok Nushairiyah meyakini alam ini tediri dari dua bagian; alam bawah (al-‘alam al-sufla) dan alam atas (al-‘alam al-‘ulya). Masing-masing alam terdiri dari tujuh tingkatan. Kedua alam ini dihuni oleh orang-orang dari kelompok Nushairiyah semata, baik dari golongan orang pandai maupun golongan orang bodoh. Adapun orang-orang selain dari kelompok Nushairiyah, menurut keyakinan mereka, masih berinkernasi dalam wujud selain manusia; hewan, pohon, batu, benda mati, atau wanita —dalam pandangan mereka, wanita bukanlah manusia seutuhnya.

  1. Alam atas dihuni oleh orang-orang mukmin, versi Nushairiyah, yang berhubungan langsung dengan al-bab dan lima anak yatim yang mengatur alam semesta. Seseorang dari tingkatan alam bawah akan naik tingkatan ke alam atas dalam tujuh peringkat, sesuai kadar ilmu dan amalnya. Berturut-turut, tingkatan tersebut dari yang paling bawah ke paling atas adalah sebagai berikut:
  2. Al-Mumtahan
  3. Al-Mukhlas
  4. Al-Mukhtas
  5. An-Najib
  6. An-Naqib
  7. Al-Yatim
  8. Al-Bab. Jika seorang pengikut Nushairiyah telah mencapai tingkatan, maka menurut keyakinan mereka, ia telah memasuki ‘alam tertinggi’ yaitu alam cahaya. Jasad kasarnya akan lebur menjadi cahaya, dan ia bisa melihat langsung al-hijab dan mengerti penciptaannya.
    1. Alam bawah dihuni oleh para pengikut Nushairiyah yang berjuang setingkat demi setingkat untuk meraih kehidupan di alam atas. Mereka juga terdiri dari tujuh tingkatan, yang berturut-turut dari tingkatan terbawah hingga tingkatan teratas adalah sebagai berikut:
    2. Al-Lahiq
    3. Al-Mustami’
    4. As-Saih
    5. Al-Muqaddas
    6. Ar-Ruhani
    7. Al-Karub
    8. Al-Muqarrab

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 366-368, An-Nushairiyah hlm. 14-16, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55)

Akidah tentang Khamr dan Wanita

Dalam ritual kelompok Nushairiyah, seorang pemuda yang direkrut sampai siap menjadi anggota kelompok ini haruslah memiliki kesetiaan kepada kelompok ini. Selain kerahasiaan, untuk memuluskan taktik itu, mereka memakai khamr dan wanita sebagai ‘umpan’. Seorang yang akan diangkat resmi menjadi anggota kelompok ini akan mengikuti pesta ritual yang dipenuhi dengan jamuan suci khamr dan wanita.

Mereka menganggap khamr adalah barang yang suci. Mereka menyebutnya sebagai Abdun Nuur (hamba cahaya), karena ia diperas dari pohon cahaya, yaitu anggur. Khamr, dalam keyakinan mereka, telah dihalalkan oleh Allah bagi mereka, karena mereka adalah wali-wali pilihan Allah. Mereka juga menyebut sebagian ritual ibadah mereka dengan istilah Qaddas, yaitu menganggap suci dan meminum khamr dengan berkat dari orang-orang yang telah mencapai tingkatan an-najib dan an-naqib.

Adapun wanita dalam keyakinan mereka adalah wujud reinkernasi dari orang yang tidak beriman (orang yang belum masuk ke dalam kelompok Nushairiyah). Kaum wanita tidak memiliki ruh yang sebenarnya, sehingga ketika badannya mati, jiwanya juga ikut mati. Nilai wanita tidak berbeda dengan nilai hewan, pohon, dan benda mati lainnya. Oleh sebab itu, mereka menghalalkan berzina dengan wanita sesama anggota kelompok, karena iman seorang wanita hanya akan sempurna bila kehormatannya dihalalkan kepada sesama ‘orang mukmin’.

Saat mereka telah mabuk kepayang, di dalam pesta yang dipenuhi dengan wanita-waniita menggiurkan, tentulah pesta seks akan menjadi menu ritual berikutnya. Tak heran apabila mereka juga menghalalkan zina, homoseksual, dan lesbian. Pada dasarnya, penghalalan khamr dan perzinaan adalah sebuah perusakan terhadap akal, jiwa, dan fisik orang-orang bodoh ini agar mereka bisa setia terhadap kelompoknya. Mereka adalah budak-budak hawa nafsu yang rendah, mengajak pengikutnya untuk menikmati surge Firdaus dunia dalam pesta seks dan minuman keras.

Jika dirunut dalam sejarah kelompok-kelompok Syiah ekstrim, bisa disimpulkan bahwa ajaran permisifisme yang menghalalkan khamr, zina, homoseksual, dan lesbian ini adalah kelanjutan dari keyakinan serupa yang dipergunakan oleh kelompok Qaramithah dan Hasyasyiyah untuk menjaring sebanyak mungkin pengikut setia, dengan menggelontorkan khamr dan wanita kepada mereka.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 369-372, dan An-Nushairiyah hlm. 17-23, dan Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55)

Prosesi Perekrutan Keanggotaan

Seorang yang hendak menjadi anggota kelompok Nushairiyah akan dipilih dan ditraining secara ketat, secara bertahap dan berjenjang, sedikit demi sedikit akan diberikan kepadanya ajaran kelompok Nushairiyah. Ketika ia telah melalui semua proses dengan penuh ketundukan dan kerelaan, pada akhirnya ia akan resmi menjadi anggota kelompok ini. Sebelum menjadi anggota resmi, mereka melewati tiga jenjang perekrutan yang berliku-liku dan penuh dengan kerahasiaan.

  • Fase al-jahl (fase kebodohan). Mereka mengambil seorang syaikh (pemimpin keagamaan) kelompok Nushairiyah sebagai ‘bapak ruhani’ atau ‘guru spiritual’. Mereka wajib menghormati dan tunduk patuh sepenuhnya kepada guru spiritual ini. Semua perintahnya wajib mereka kerjakan tanpa pertanyaan, dan semua larangannya wajib mereka jauhi tanpa keraguan sedikit pun. Inti ajaran dari jenjang ini adalah ketundukan dan kepasrahan total seorang ‘murid’ kepada ‘guru spiritual’, yang dilaksanakan dalam bentuk dua ritual suci.

Pertama, murid bersujud di atas sepatu ‘guru spiritual’ dan menciumi telapak kakinya.

Kedua, murid dengan kepasrahan total disodomi oleh para murid senior guru spiritual tersebut. Menurut keyakinan mereka, hal itu adalah bukti dari kerendah hatian dan tiadanya kesombongan kepada sesama saudara mukmin.

Dalam fase ini dilaksanakan dua ritual penting. Pertama, penyampaian ajaran rahasia pertama berupa pesta khamr dan seks bebas di awal malam, sehingga mereka tertidur daam keadaan mabuk dan campur baur antara lelaki dan perempuan. Kedua, di akhir malam, mereka dibangunkan untuk mengadakan ritual ‘pernikahan ruhani’ antara guru spiritual dan murid. Mereka menyerupakan penyampaian sebagian ajaran rahasia oleh guru spiritual kepada murid dengan proses persetubuhan antara suami dan istri. Masuknya ajaran rahasia ‘cahaya ilmu’ dari guru spiritual kepada murid diserupakan dengan masuknya sperma suami ke rahim istri. Ajaran guru spiritual adalah ‘ruh’ yang ditiupkan ke dalam ‘janin’, yaitu jiwa murid yang telah pasrah sepenuhnya kepadanya.

  • Fase at-ta’liq (fase pengarahan). Selama sembilan bulan setelahnya, murid akan terus-menerus mendapatkan bimbingan ruhani dari guru spiritual. Mereka meyakini ‘kelahiran hakiki’ dan ‘kehidupan hakiki’ adalah saat murid telah menerima ajaran rahasia dari guru spiritual selama sembilan bulan tersebut. Ajaran rahasia disampaikan sedikit demi sedikit, menurut kesiapan dan kemampuan murid. Setelah itu, murid akan mengalami masa ‘persusuan hakiki’ selama dua tahun penuh, dengan penyampaian ajaran rahasia dari guru spiritual.
  • Fase as-sama’ (fase mendengarkan). Setelah murid mengalami masa persiapan ruhani yang panjang dan berliku, dan menurut penelitian para guru spiritual telah dianggap layak, maka para guru spiritual akan mengadakan pertemuan khusus. Murid tersebut akan diantarkan kepada jenjang yang lebih tinggi, yaitu jenjang syaikh (guru spiritual) atau shahibul ‘ahd (pemilik perjanjian). Pada jenjang ini, sebagian besar ajaran rahasia Nushairiyah disampaikan kepadanya.

Para ulama dan tokoh Nushairiyah seperti syaikh Yusuf Al-Halabi dalam bukunya Munazharah Asy-Syaikh Yusuf Al-Halabi, Sa’ad Al-Qumi dalam bukunya Al-Maqalat wal Firaq, Sulaiman Al-Adhani dalam bukunya Al-Bakurah As-Sulaimaniyah dan Al-Husaini Abdullah dalam bukunya Al-Judzur At-Tarikhiyah lil-‘Alawiyyah An-Nushairiyah telah menguraikan secara panjang lebar prosesi dan ritual Nushairiyah dalam setiap pertemuan rahasia untuk para murid sampai mereka resmi menjadi anggota kelompok. Semua prosesi, ritual, kerahasiaan, dan kesesatannya menyerupai ajaran kelompok-kelompok rahasia YAhudi seperti Freemasonry, Illuminati, dan lain-lain.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 373-384, An-Nushairiyah hlm. 17-22, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 115-116)


Ibadah-ibadah dan hari raya kelompok Nushairiyah

Sebagaimana halnya kelompok-kelompok Bathiniyah yang lain, Nushairiyah meyakini bahwa perintah-perintah agama hanya berlaku untuk kaum awam yang bodoh. Adapun para syaikh dan shahibul ‘ahd yang telah mencapai taraf ma’rifah terbebas dari semua perintah dan larangan agama.

Kelompok Nushairiyah tidak mengenal wudhu, tayamum, dan mandi wajib. Mereka tidak melaksanakan thaharah (kesucian) sebelum melaksanakan ritual-ritual kelompok mereka.

Kelompok Nushairiyah tidak melaksanakan shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, haji dan umrah ke tanah suci Makkah. Mereka menganggap haji ke baitullah di Makkah adalah kekafiran dan penyembahan berhala. Mereka tidak membangun masjid-masjid. Ritual ibadah mereka diadakan di rumah-rumah atau tempat-tempat pertemuan khusus. Ritual ibadah mereka adalah para syaikh dan shahibul ‘ahd membacakan kisah-kisah khurafat dari para pendiri kelompok ini. Lalu dilanjutkan dengan pesta khamr dan pesta seks. Ritual ibadah mereka menyerupai ritual ibadah agama Kristen dan kaum musyrik.

Mereka melaksanakan ibadah yang mereka sebut shalat, namun tata cara dan jumlah raka’atnya berbeda dengan shalat lima waktu kaum muslimin. ‘Shalat’ kelompok Nushairiyah tidak disertai ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk tasyahud. ‘Shalat’ mereka hanya berdiri disertai pembacaan kisah-kisah khurafat riwayat dari para tokoh pendiri kelompok mereka. ‘Shalat’ Dhuhur mereka terdiri dari 8 rakaat, ‘shalat’ Ashar mereka terdiri dari 4 rakaat, ‘shalat’ Magrib mereka terdiri dari 5 raka’at, ‘shalat’ ISya’ mereka terdiri dari 4 raka’at, dan ‘shalat’ Shubuh mereka terdiri dari 2 raka’at.

Kelompok Nushairiyah merayakan banyak hari raya, yang merupakan adopsi dari berbagai agama; Islam, Yahudi, Nashrani, Majusi, Yunani kuno, dan lain-lain. Hari raya terpenting mereka adalah:

  1. Hari raya Ghadir atau Ghadir Khum, merupakan hari raya seluruh kelompok Syi’ah, jatuh pada tanggal 18 Dzulhijah. Menurut mereka pada hari tersebut sepulang dari haji Wada’, di daerah Ghadir (3 km dari Juhfah) yang ditumbuhi banyak pohon Khum, Rasulullah SAW mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya, sebagaimana persaudaraan nabi Musa dan Harun. Seluruh kelompok Syi’ah merayakan malam Ghadir dan melaksanakan shalat dua raka’at pada keesokan harinya. Adapun kelompok Nushairiyah meyakini bahwa pada hari itu, Nabi SAW membaiat Ali sebagai khalifah sepeninggalnya.
  2. Hari raya Idul Fithri, jatuh pada tanggal 1 Syawwal. Perbedaannya, kelompok Nushairiyah tidak melaksanakan shaum Ramadhan sebulan penuh sebagaimana kaum muslimin. Maka perayaan hari Idul Fithri ala Nushairiyah tentu saja memiliki tatacara dan makna yang berbeda dengan perayaan kaum muslimin.
  3. Hari raya Idul Adha. Kaum muslimin merayakannya pada tanggal 10 Dzulhijah, namun kelompok Nushairiyah merayakannya pada tanggal 12 Dzulhijah. Lebih dari itu, mereka tidak mengakui ibadah haji.
  4. Hari raya ‘Asyura, jatuh pada tanggal 10 Muharram, dirayakan oleh seluruh kelompok Syi’ah sebagai peringatan atas terbantainya Husain bin Ali di padang Karbala’. Perbedaannya, kelompok Nushairiyah meyakini Husain belum terbunuh, hanya bersembunyi sebagaimana halnya Isa bin Maryam bersembunyi.
  5. Hari raya Ghadir Tsani, jatuh pada tanggal 9 Rabi’ul awwal. Mereka meyakini pada hari tersebut Nabi SAW mengumpulkan keluarganya (Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain), menyelimuti mereka dengan selimutnya dan menantang mubahalah (sumpah mati bagi pihak yang salah) rombongan utusan Kristen dari Najran. Kelompok Nushairiyah memperingatinya dengan melaksanakan shalat khusus lima waktu untuk kelima orang yang bermubahalah tersebut.
  6. Hari raya Nairuz, jatuh pada tanggal 1 Rabi’ul Awwal, merupakan hari raya tahun baru bangsa Majusi Persia.
  7. Hari raya Mahrajan, jatuh pada awal musim gugur, merupakan hari raya bangsa Majusi Persia.
  8. Hari raya Pantekosta. Pantekosta (dari Bahasa Yunani kuno: pentekostē yang berarti kelima-puluh) adalah hari raya Kristiani yang memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem, lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus Kristus. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan sesuai dengan yang dijanjikan Yesus sesudah kenaikannya ke surga. Menurut Alkitab, murid-murid Yesus berhasil mempertobatkan tiga ribu jiwa pada hari tersebut dan hal inilah yang disebut dengan gereja mula-mula. Sebelumnya Pentakosta adalah hari raya besar orang yahudi yang kemudian diadopsi oleh gereja barat dan gereja timur. Pada hari ini, orang-orang Yahudi datang dari segala penjuru dunia ke Yerusalem untuk merayakan festival panen raya.
  9. Hari raya pembaptisan.
  10. Hari raya Natal.
  11. Hari raya Paskah.

(An-Nushairiyah, hlm. 33-38, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 56-74, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 119-120)

Referensi:

  1. Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami: ‘Aqaiduha wa Hukmul Islam Fiha, Amman: Maktabah Al-Aqsha, cet. 2, 1406 H/1986 M.
  2. Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah: Tarikhuha wa ‘Aqaiduha, Kuwait: Ad-Dar As-Salafiyah, cet. 2, 1404 H/1984 M.
  3. Mamduh Al-Harbi, Mausu’ah Firaq Asy-Syi’ah, www.saaid.net
  4. Alwi As-Saqqaf, An-Nushairiyah, www.dorar.net

Bersambung….

http://arrahmah.com/read/2011/09/19/15286-serial-kajian-syiah-ekstrim-nushairiyah-membongkar-kesesatan-dan-kekejaman-rezim-suriah-4.html

1 comment: