Tuesday, July 12, 2011

Permainan Asing dalam Revolusi Arab

PADA Jum`at pekan lalu, sekitar tujuh bulan sudah umur revolusi rakyat di sejumlah negara Arab sejak seorang anak muda Tunisia, Mohammed Bu Azizi membakar dirinya sebagai ungkapan membela harga diri dan tuntutan hak mendapat kesempatan bekerja. Hingga saat ini, telah ribuan kaula muda Arab yang gugur sebagai pahlawan perubahan disamping ribuan lainnya mengalami cacat seumur hidup sebagi salah satu konsekwensi dari sebuah perubahan status quo.

Dalam rentang waktu tujuh bulan ini, baru dua revolusi rakyat yang oleh banyak pengamat membukukan keberhasilan yakni revolusi di Tunisia dan Mesir yang sukses menumbangkan rejim tanpa campur tangan luar (baca: Barat). Sedangkan di sejumlah negara Arab lainnya, kubu pemuda pro perubahan terus berupaya mendorong roda perubahan dengan harapan akan muncul pimpinan yang lebih mengedepankan inspirasi rakyat.

Pada mulanya diakui bahwa tuntutan perubahan tersebut murni dari dalam, artinya memang sebagian rakyat bahkan dapat dikatakan mayoritas rakyat dimotori kaum muda ingin perubahan ke arah yang lebih baik terutama yang terkait pemulihan karamah (harga diri) sebagai bangsa besar. Namun, negara-negara asing (baca: Barat) pasti berusaha keras agar perubahan yang diinginkan bangsa Arab itu tidak mengancam kepentingan mereka.

Karena itu, dalam suasana hiruk-pikuk tuntutan perubahan yang masih berlangsung dewasa ini, mucul pula upaya-upaya asing guna ikut menunggangi revolusi tersebut demi melindungi kepentingan mereka. Tentunya upaya tersebut mencoreng citra revolusi damai tersebut sehingga rejim yang masih berkuasa dengan segala cara ingin mempertahankan kekuasaan ketimbang menyerahkan kepada sekelompok pimpinan yang dianggap mengusung kepentingan asing.

Infiltrasi asing tersebut justeru menimbulkan revolusi yang kontra produktif yang semakin menyengsarakan rakyat kebanyakan baik secara ekonomi maupun korban jiwa yang terus berjatuhan. Memang diakui sebagian pimpinan oposisi yang ingin mendapatkan dukungan internasional bagi upaya perubahan yang dilakukan kubu pemuda, telah salah langkah sehingga bukan hanya mendapat stigma dari rejim, akan tetapi juga dari kubu pemuda sendiri.

"Revolusi Arab pasti akan berhasil, namun tidak menutup pintu bagi kita untuk menunjukkan berbagai kekeliruannya yang harus diperbaiki agar tidak mengorbankan kaula muda yang menjadi penggeraknya. Salah satunya adalah revolusi harus terus dipertahankan secara damai,`` tulis harian Al-Arab beberapa waktu lalu.

Apa yang dikemukakan oleh salah satu media Arab yang terbit di London itu adalah kenyataan di lapangan saat ini karena banyak pihak karena kepentingan tertentu ingin menunggangi revolusi kaum muda tersebut. Kekuatan imperialis pasti tidak akan diam dan akhir-akhir ini sudah menunjukkan simpati kepada kubu revolusi bukan karena membela kubu itu tapi untuk melanggengkan kepentingan mereka dengan harapan akan memunculkan penguasa baru dari parpol yang dapat diajak kompromi.

"Imperialis tidak akan membiarkan satu pintu (peluang pen.) pun terbuka karena pasti mereka akan memasukinya. Maka waspadalah dan makin waspadalah terutama bari kalangan parpol yang selama ini mendapat dukungan dan bantuan dari mereka sebab tujuan utama mereka hanya cloning budaya mereka di tanah Arab,`` papar sejumlah analis Arab mengingatkan.

Para tokoh oposisi Arab harus hati-hati menerima uluran tangan atau dukungan dari luar yang kadang-kadang memanfaatkan sejumlah pakar terkenal untuk merangkul mereka yang ternyata hanya mengusung kepentingan zionis. Abdul Bari Athwan, penulis dan analis Arab yang mukim di London misalnya mengingatkan tentang pakar Perancis, Bernard Henri Levy yang berusaha merangkul para tokoh oposisi Suriah.

Sebagaimana diketahui, Bernard Levy adalah salah satu penulis dan filosof zionis terkemuka Prancis yang dikenal dekat dengan beberapa pemimpin Israel semisal PM Benjamin Netanyahu, Menhan, Ehud Barak yang dikenal sebagai otak pembantaian di Gaza. Filosof ini juga dikenal sebagai pembela fanatik zionis Israel melanjutkan pemukiman (pencaplokan) di tanah Palestina dan ia pula yang mati-matian mempertahankan keabsahan serangan negeri zionis itu atas Gaza termasuk penggunaan senjata fosfor yang terlarang.

Sponsori oposisi

Anehnya, Bernard Levy mengaku dirinya sebagai salah satu "bapak spiritual" revolusi Arab meskipun menurut pengamat Abdul Bari Athwan, hanya pimpinan Dewan Nasional Transisi (DNT) di Libya saja yang menyambut dukungannya. Di Tunisa, sang filosof zionis itu ditolak mentah-mentah karena mafhum bahwa ia mengusung kepentingan penjajah Israel, sementara di Mesir sang filosof tidak berani ikut campur.

Paling tidak dia sukses melakukan infiltrasi dalam revolusi rakyat di Libya dengan dukungannya terhadap DNT sebab ia ingin menjadikannya rejim yang dapat diajak dekat dengan Israel nantinya. Pada 3 Juli lalu, Levy kembali berusaha mengkontaminasikan revolusi Suriah dengan mensponsori oposisi melaksanakan konferensi di Paris dihadiri sebagian tokoh oposisi Suriah dan juga beberapa mantan PM dan Menlu Prancis.

Untungnya sebagian besar tokoh oposisi Suriah sudah mencium bau tidak beres dari upaya Levy tersebut sehingga banyak dari mereka yang memboikot. Alhasil upaya si filosof zionis yang dikenal sangat pendukung intervensi NATO dalam revolusi Arab dengan berbagai dalih itu, gagal mencapai targetnya yakni menyatukan oposisi Suriah dibawah komandonya.

Dapat dipastikan kegagalan tersebut disebabkan sikap sang filosof yang sangat mendukung mutlak zionis Israel dan sangat memusihi bangsa Palestina. Seperti diketahui permusuhan Suriah dengan Israel, pencaplok tanah Arab, telah mengakar kuat bahkan menjadi posisi kunci seluruh elemen bangsa baik pemerintah, oposisi maupun tokoh-tokoh lainnya apalagi rakyat dengan berbagai etnis dan orientasi sehingga negeri bekas pusat Dinasti Umawiyah ini selalu mendukung perjuangan bersenjata Arab melawan negeri zionis itu.

Sikap permusuhan abadi dengan Israel ibaratnya garis merah yang tidak boleh dilanggar siapa pun dengan alasan apapun terlebih lagi masih ada wilayah Suriah yang diduduki Israel di Dataran Tinggi Golan. Karenanya tokoh Suriah manapun yang ikut-ikutan menghadiri pertemuan yang disponsori Levy itu pasti dicap sebagai pengkhianat bangsa.

Sebenarnya sikap mayoritas oposisi tegas "tokoh yang menentang hak suatu bangsa tidak mungkin mengklaim dirinya mendukung revolusi yang menuntut hak yang sama". Levy yang sangat memusuhi bangsa Palestina untuk meraih haknya tidak mungkin mendukung bangsa lain seperti Suriah untuk meraih hak yang sama atau singkatnya seperti kata pepatah pasti ada udang dibalik batu yang ujung-ujungnya mengusung kepentingan zionis Israel yang ibaratnya saat ini sedang pucat pasi melihat roda perubahan di Arab karena khawatir dapat mengancam eksistensinya.

Namun tidak menutup kemungkinan sebagian dari tokoh oposisi terutama yang telah lama mengasingkan diri di sejumlah negara Barat mengusung kepentingan negara penampungnya yang secara kebetulan sekutu utama zionis Israel. Karena itu seperti dikatakan oleh Dr. Ra`fat Sayid Ahmed, salah seorang analis Arab, bahwa pertemuan Paris tersebut telah mencoreng citra revolusi damai di Suriah.

"Perlu segera dikeluarkan pernyataan menentang pertemuan tersebut yang menjadi aib bagi semua. Oposisi di manapun baik di Suriah, Mesir dan negara Arab lainnya harus mengeluarkan pernyataan menentang pelaksanaan pertemuan itu, bila tidak akan terjadi pertemuan serupa yang hanya diikuti oleh pengkhianat dan orang-orang bayaran yang mengatasnamakan oposisi," paparnya dalam sebuah tulisannya di majalah Al-Wa`yul Al-Islami edisi 9 Sya`ban (10/07/2011).

Kekhawatiran tersebut memang beralasan sebab setelah negara-negara sekutu Israel gagal melakukan campur tangan di Tunisia dan Mesir maka akan berusaha memanfaatkan tuntutan perubahan di negara Arab lainnya untuk kepentingan negeri zionis itu. Barat dengan berbagai cara dan pendekatan akan ikut "bermain" di negara Arab lainnya yang sedang menghadapi tuntutan perubahan.

Kepentingan lain

Menyangkut kasus Suriah, selain Barat yang berusaha sekuat tenaga mendukung perubahan yang sejalan dengan kepentingannya, ada juga kepentingan lain yang mendukung kuat rejim yang selama ini menjadi sekutunya. Rusia berkepentingan besar agar Suriah tetap menjadi sekutunya di kawasan Timur Tengah (Timteng) sebagai benteng terakhir keberadaannya di kawasan tersebut.

Para pemimpin negeri beruang merah itu pasti lebih mafhum bahwa salah satu target Barat terkait perubahan di Suriah selain menjauhkan negeri itu dari persekutuan dengan Iran, juga untuk menghapus keberadaan Rusia di kawasan Laut Tengah.

"Keliru bila Rusia menganggap akan memperoleh tempat nantinya tanpa rejim Assad. Setelah didepak dari Libya, tinggal Suriah benteng terakhir keberadaan Rusia di kawasan, karenanya akan membela kepentingannya itu lewat Dewan Keamanan PBB," papar Zahir Majid, seorang analis Arab.

Menghadapi berbagai kepentingan seperti itu, memang salah satu jalan terbaik adalah intervensi sesama negara Islam untuk membantu penyelesaian yang dapat diterima semua pihak. Lagi-lagi disini kita contohkan sikap Turki yang sejak sekitar tahun 2005 selalu bersama Suriah dalam memperjuangkan hak-haknya.

Ketika tuntutan perubahan merambah ke Suriah, Turki selaku negeri jiran juga tidak tinggal diam membantu mengupayakan penyelesaian yang logis bukan menuntut mundurnya rejim tapi membantu memuluskan tuntutan perubahan. Diantarnya adalah mendesak Suriah agar segera membatalkan undang-undang darurat, menghapus pengadilan keamanan negara, membentuk undang-undang yang membolehkan pembentukan parpol dan alih kekuasaan secara demokratis.

Seperti diutarakan seorang penulis Turki, Mohamed Zahidgol di harian al-Watan, Oman, Senin (04/07/2011), campur tangan Turki di Suriah bukan untuk menipu bukan pula untuk merayunya, akan tetapi sebagai tangung jawab sesama negara jiran yang juga memiliki saling keterkaitan. "Di depan Suriah peluang bersejarah atas apa yang disampaikan Turki guna menyelesaikan krisis yang dapat diterima semua elemen bangsa terutama di dalam Suriah," paparnya.

Posisi Turki itu seharusnya mendapat dukungan penuh dunia Islam terutama lewat Organisasi Konferensi Islam (OKI) agar penyelesaian mendatang di negeri itu dan negeri Arab lainnya yang sedang menghadapi tuntutan perubahan, tidak datang dari negara-negara besar kekuatan imperialisme. Itulah sebenarnya harapan besar bangsa-bangsa Muslim sebab intervensi asing hanya akan mengokohkan kepentingan mereka bukan menginginkan kebaikan bagi bangsa Muslim.*/Sana`a, 10 Sya`ban 1432 H


http://www.hidayatullah.com/read/17939/12/07/2011/permainan-asing-dalam-revolusi-arab.html

No comments:

Post a Comment